Posting Terbaru

Tentang PT. Saraswanti Indo Genetech

Ditulis Oleh Unknown on Selasa, 27 Oktober 2015 | 01.47

PT. Saraswanti Indo Genetech atau dikenal sebagai SIG Laboratory, merupakan laboratorium yang melayani uji dan analisa makanan, minuman, suplemen, obat-obatan dan kosmetika. SIG LAboratory merupakan Laboratorium Penguji Pangan Terakreditasi oleh KAN LP-184-IDN. SNI ISO/IEC 17025:2008. PT. Saraswanti Indo Genetech merupakan kolaborasi antara PT. Saraswanti Anugerah Makmur Surabaya dengan Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB) Bogor.

Pada tanggal 07 Juli 2001 PT. Saraswanti Indo Genetech didirikan di Bogor, merupakan laboratorium jasa deteksi produk hasil rekayasa genetika atau transgenik atau GMO (Genetically Modified Organism) dan jasa identifikasi bakteri menggunakan PCR. Semenjak bulan Agustus 2011, PT. Saraswanti Indo Genetech menempati gedung baru yang lebih representatif yaitu Graha SIG dengan 6 (enam) lantai di Jalan Rasamala 20 Taman Yasmin – Bogor.

Dalam rangka upaya memenuhi kebutuhan para pelanggan, maka Laboratorium PT. Saraswanti Indo Genetech Bogor telah meningkatkan kompetensinya dengan memperluas ruang lingkup akreditasi di bidang keamanan pangan seperti uji mikrobiologi, uji vitamin, uji asam lemak, uji logam berat, uji residu pestisida, uji proksimat, uji bahan tambahan pangan, uji asam amino, uji nutrition facts dan uji keamanan pangan lain.
Commissioner & Director

Komisaris Utama: Ir. Y.N. Hari Hardono
Komisaris: Dr. M. Edi Premono
Komisaris: Dr. Soeryo Adiwibowo, M.Sc
Komisaris: Dr. Dwi Andreas Santosa
Direktur Utama: Ir. Yahya Taufik
Direktur: Ir. Julius Krisanthus Kristiyono
Direktur: Ir. Kristiawan Adinugroho
Contact

GRAHA SIG: Jl. Rasamala No. 20, Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat 16006
Phone: 0251 – 7532348 (Hunting). Fax: 0251-7540927
Email: marketing-sig@saraswanti.com. Website: www.siglaboratory.com

Sucofindo Bangun Laboratorium Halal Canggih

Sebuah bangunan berlantai tiga dengan cat putih dengan logo Sucofindo berdiri di jalan arteri Cibitung no 1 Cibitung Bekasi Jawa Barat, tak terlalu menonjol dibandingkan dengan bangunan lain, tetapi disinilah keselamatan penduduk Indonesia dipertaruhkan dengan keberadaan sebuah kompleks laboratorium terlengkap di Indonesia.

Satu unit laboratorium pangan canggih kini sedang dibangun di salah satu ruangan di lantai satu dari bangunan berlantai tiga yang menghadap ke arah taman dengan jajaran pohon kelapa di tiap sisinya. Dua bulan lagi, lab baru yang merupakan pengembangan dari laboratorium lama tersebut diperkirakan bisa beroperasi penuh untuk melayani kebutuhan masyarakat, salah satunya untuk uji halal.

Suasana terasa sunyi, hentakan bunyi sepatu yang mengiringi langkah kaki pun terasa jelas. Ya, para ahli dan analis memang butuh suasana kerja yang tenang. Tak sembarang orang boleh masuk dalam lokasi ini, meskipun tidak ada pengamanan yang terkesan angker.

Nama Sucofindo memang tidak terlalu akrab di telinga publik, tetapi lab yang dikelola oleh 40 orang ahli kimia dari 259 karyawan ini banyak menentukan, apakah sebuah produk olahan atau makanan layak dikonsumsi atau tidak. Mainan anak, kosmetik, peralatan listrik, uji mineral merupakan sebagian dari layanan jasa yang diberikan oleh BUMN yang pada tahun 2013 lalu memperoleh penghargaan sebagai BUMN Jasa Non Keuangan Berdaya Saing Terbaik dari Markplus.

Senin siang, (24/3) rombongan wartawan yang melakukan liputan khusus tentang sertifikasi diajak langsung melihat berbagai macam laboratorium yang dimiliki. Sucofindo kini terus berbenah untuk menyiapkan dirinya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MAE) yang menyebabkan persaingan lembaga sertifikasi semakin terbuka.

Terkait dengan Laboratorim Pangan, Kepala Departemen Pengujian Sucofindo Adisam menjelaskan, pihaknya melakukan investasi alat modern dengan sistem droplet untuk mempercepat waktu pengujian. Jika dulunya dibutuhkan tujuh hari untuk uji DNA guna melihat ada tidaknya kandungan babi dalam sebuah produk, kini cukup satu hari saja. Dengan alat ini, akan semakin banyak pengujian yang bisa dilakukan.

Seluruh proses pengujian sudah bisa dilakukan secara otomatis selama 24 jam sehingga tidak perlu banyak tenaga untuk mengawasinya, dan jika memang memerlukan tenaga untuk lembur, perusahaan akan menyiapkan karyawannya untuk kerja lembur. Sejumlah produk makanan dan buah impor perlu pemeriksaan cepat untuk diuji keamanannya juga bisa diuji disini, seperti untuk melihat kandungan pestisida, sehingga semakin cepat diperoleh hasil, semakin cepat barang bisa keluar dari pelabuhan.

“Kami mengantisipasi kecepatan kebutuhan masyarakat, dan kami terus berusaha meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen,” tuturnya.

Ia berharap dengan  kecepatan yang tinggi ini, proses pengujian halal bisa berlangsung lebih singkat sehingga pengusaha dan konsumen yang butuh kepastian kehalalan produk, akan segera tahu status kehalalan produknya. Isu-isu tak sedap tentang kehalalan sebuah produk seringkali ditebar oleh pesaing bisnis sebagai cara untuk menjatuhkan produk tersebut. Masyarakat resah, pengusaha juga rugi. Disini, Sucofindo dapat membantu memberi kepastian yang bisa dipercaya.

Ia menjelaskan, produk terkait dengan babi harus dilihat dulu karakteristiknya. Jika masih berbentuk daging, seperti ingin mengetahui, apakah daging bakso masih mengandung unsur babi atau tidak, maka pengujian cukup dilakukan dengan porcine test, yang alatnya seperti tes kehamilan. Jika setelah pengujian alat tersebut menunjukkan strip merah dua, maka makanan tersebut positif mengandung babi, sementara jika satu, berarti aman dari kandungan daging babi. Sementara itu, jika dicurigai pentol bakso terbuat dari daging celeng, maka bisa menggunakan uji komposit asam lemak. Alat screening bermerk Perkin Elmer saat ini hanya dijual di MUI. Tetapi ada merk lain jika menginginkannya.

Tetapi jika produk babi tersebut sudah dalam bentuk turunan seperti gelatin, membutuhkan teknologi yang canggih, sehingga harus dilakukan uji NDA yang memerlukan prosedur yang lebih rumit sehingga diperlukan alat canggih.

Pengujian halal bisa menggunakan dua metode. Pertama, pengujian produk final. Misalnya produk coklat, maka coklat tersebut yang diuji, apakah mengandung komponen yang diharamkan apa tidak. Kedua, pengujian produk asalnya. Yaitu, komposisi dari produk coklat tersebut diuji satu per satu, seperti coklatnya, gulanya, susunya, dan lainnya semua diuji satu per satu. Badan Halal NU, menggunakan metode yang pertama untuk efisiensi biaya. Jika ada kandungan yang dicurigai haram, baru dilakukan pengujian lanjutan.

Ia berharap layanan sertifikasi halal di Indonesia terus berkembang. Malaysia saat ini menjadi pemimpin dunia untuk industri halal. Mereka memiliki pusat riset dan pengujian halal serta sistem yang sangat baik.

Mekipun tidak ada kerjasama secara langsung dengan MUI, Adisam menjelaskan beberapa personal dari MUI secara individual pernah menggunakan jasa laboratorium ini.

Laboratorium ini pula yang menjadi langganan sejumlah media elektronik yang memiliki program siaran investigasi yang biasanya ingin mengungkap produk-produk konsumen yang dicurigai mengandung bahan berbahaya. Banyak pengusaha nakal menggunakan bahan yang seharusnya tidak digunakan untuk manusia, seperti pengawet, pewarna tekstil atau bahan berbahaya lain.

Bukan hanya untuk korporasi, Sucofindo juga melayani konsumen retail. Di bagian paling depan gedung tersebut, terdapat sebuah ruangan dengan penyejuk udara untuk melayani konsumen. Resepsionis yang ramah melayani berbagai keperluan konsumen  seperti kualitas air tanah, apakah layak minum, struktur tanah untuk mendirikan bangunan, kandungan batuan dan lainnya. 

Untuk pengujian kualitas air dikenakan biaya 800 ribu, sementara untuk biaya pengujian lainnya juga tak terlalu mahal, berkisar 1.5-2.5 juta. “Konsumen retail sebenarnya tidak menguntungkan, kecuali dengan volume besar.  Kami memperoleh keuntungan dari sektor korporasi besar,” ujarnya.

Demi memenuhi kebutuhan konsumen, Sucofindo juga menyediakan berbagai program layanan, seperti program reguler yang hasil uji labnya baru diketahui dalam beberapa hari, tetapi juga ada program satu hari, yaitu hasil pengujian bisa langsung diketahui dalam satu hari, dengan ketentuan dan persyaratan yang berbeda. Ia menjelaskan, terdapat beberapa perusahaan industri di Bekasi yang memerlukan hasil uji cepat sehingga Sucofindo juga menyiapkan diri untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Produk CV. KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA izin BPOM

CV. Klinik dr. Adi Wira Perdhana adalah penjualan produk dengan brand DR. ADI WIRA yang beralamatkan di Jl. Adi Sucipto, Kelurahan Pejarakan Karya, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram Telp: -, Fax: - Brand DR. ADI WIRA diproduksi oleh PT. Immortal Cosmedika Indonesia.
NOMOR REGISTRASIPRODUKPENDAFTAR
NA18140104294
Terbit: 23-12-2014
Day Cream Platinum
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram
NA18140104197
Terbit: 18-12-2014
Day Body Lotion Whitening
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram
NA18141900533
Terbit: 18-12-2014
Glutawhite Cream
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram
NA18140104195
Terbit: 18-12-2014
Night Body Lotion Whitening
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram
NA18141206303
Terbit: 11-12-2014
Astringent Acne
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram
NA18140104155
Terbit: 09-12-2014
Night Cream Platinum
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram
NA18140103753
Terbit: 07-11-2014
Acne Care Night Cream
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram
NA18140101333
Terbit: 30-04-2014
Day Cream Diamond
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram
NA18140101132
Terbit: 14-04-2014
Day Cream Silver
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram
NA18141900151
Terbit: 14-04-2014
Whitening Cream Silver
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram
NA18141201936
Terbit: 14-04-2014
Facial Foam
Merk: DR. ADI WIRA
Kemasan: -
KLINIK DR. ADI WIRA PERDHANA, CV
Mataram

Klinik dr. Adi Wira Perdhana
Jl. Adi Sucipto - Mataram
NTB
Reservasi : 081216168057, 087851420725

Bisnis Klinik Perawatan Kecantikan LBC dan NSC


London Beauty Center (LBC) Vs Natasha Skin Care (NSC) - Perang Saudara di Bisnis Klinik Perawatan Kecantikan.

Pasangan suami istri ini Anton Yuwono dan Watji Niwati (istri) mungkin tidak pernah menyangka usaha yang mereka jalani bakal menjelma menjadi sebuah bisnis berskala nasional dan cukup besar. Pasalnya, bisnis klinik kecantikan yang mereka jalankan saat ini awalnya iseng semata-mata. Karena melihat banyak perempuan berduit  melawat ke Singapura untuk  sekadar melakukan perawatan kulit dan wajah,  sang istri kemudian mencoba memasarkan sebuah krim perawatan kulit yang dikenal dengan merek Mezo Therapy. "Istri saya kebetulan juga sering ke Singapura untuk keperluan perawatan kulit," kata Anton yang  awalnya  membuka toko emas Obor di Yogyakarta.


"Krim tersebut awalnya dipasarkan dengan cara di titipkan kepada para relasi di Pasar Beringharjo," tempat mereka membuka toko emas dan para karyawati di Yogya dan sekitarnya. "Ternyata krim ini sangat diminati, karena banyak yang merasa cocok," ujar pria kelahiran 10 November 1950 ini. Dalam waktu yang terbilang singkat, Niwati berhasil menjual krim dalam jumlah lumayan besar.


Berbekal pengalaman, setahun kemudian pasangan suami-istri ini memberanikan diri lebih serius menekuni bisnis klinik kecantikan. Tepatnya pada 19 Juli 1998, berdirilah klinik perawatan kulit dengan bendera London Beauty Centre (LBC) di Yogya.


Di tengah krisis ekonomi yang mencekik, bisnis skin care yang dikelola Anton malah berkembang pesat. Jumlah pasiennya terus bertambah. Mereka membawa berbagai problem yang berhubungan dengan penampilan fisik, mulai dari masalah jerawat, bopeng, keriput hingga pelangsingan tubuh. Dan, karena pertumbuhan bisnis kecantikan yang sangat menjanjikan, ia dan istrinya rela melepaskan pengelolaan toko emas Obor kepada saudara-saudaranya yang lain. Mereka memilih konsentrasi untuk mengembangkan klinik kecantikan LBC.


Perkembangan pesat mulai dirasakan LBC setelah tahun 2001, yaitu dengan membuka cabang di empat kota sekaligus: Bandung, Jakarta, Solo dan Denpasar. Pendirian cabang dilakukan setiap tahun. Dan kini telah tersebar di 23 kota dengan 30 cabang. "Setiap ada tawaran buka cabang di suatu kota langsung kami respons, jika memungkinkan kami langsung bisa membukanya," kata Anton.


Namun  rupanya, sukses Anton  dan Niwati tidak bisa dinikmati terlalu lama.  Diam-diam 1999  telah muncul  klinik serupa, yakni  Natasha Skin Care (NSC) di Ponorogo, Jawa Timur. Pendirinya  adalah dr. Fredi Setyawan, ahli dermatologi, beserta istrinya Tantri Onni Bianti,   mantan  orang kepercayaan  Anton  yang juga  terbilang keluarga dekat karena Anton adalah paman dari istrinya Fredi.


Tak pelak,  keberadaan  NSC yang terus melakukan ekspansi ke Madiun, Surabaya, hingga Yogya  membuat Anton dengan LBC-nya murka.  Apalagi  ketika Fredi sengaja  memasuki 'daerah kekuasaan' LBC di Yogya  di lokasi tak jauh dari LBC berada. "Benar-benar seperti mengajak perang terbuka," ujar seorang sumber yang dekat dengan kedua belah pihak yang enggan disebutkan namanya. Bagaimana tidak,  hanya selang sebulan sejak LBC membuka lokasi baru di kawasan Kotabaru (Jl. Suroto 12),  NSC  pun meresmikan  kliniknya hanya  beberapa meter dari LBC, yakni di Jl.  Supadi,  Kotabaru, Yogya.


Keduanya  mengelak jika dikatakan bahwa persaingan mereka sudah  emosional dan  tidak sehat lagi. Menurut Fredi, dalam setiap membuka cabang dia tidak bermaksud menyaingi pihak mana pun. Yang dilakukannya semata-mata melihat peluang pasar. Bilamana di suatu tempat masih ada peluang pasar, maka dia akan membuka di tempat itu, tidak peduli apakah sudah ada kompetitor atau belum. "Kami tidak memiliki pesaing. Kami sudah jauh meninggalkan pemain bisnis kecantikan lainnya, termasuk yang lebih senior," kilah Fredi. Menurutnya,  sebagai pengusaha, ia harus siap bersaing dengan siapa pun. Bukan hanya dengan pengusaha dalam negeri, tapi juga pengusaha dari luar negeri. Karena itulah, ia melakukan segala upaya agar NSC bisa terus eksis.

Apa pun  alasan Fredi, Anton  merasa disaingi. "Lihat saja, saya buka di Kotabaru, dia ikut buka di tempat yang sama, jaraknya dekat sekali," ujar Anton dengan nada kecewa. Toh, ia mengaku berbesar hati. "Tidak  apa-apa, kami punya pasar sendiri-sendiri," sergahnya.

Kalau soal  kecewa  terhadap  Fredi,  itu  sudah  dirasakan sebelumnya. Fredi sempat dikursuskan di London Research Centre, lembaga kursus perawatan kulit ternama di Singapura. "Anton kecewa berat karena ternyata Fredi tidak loyal terhadap dirinya," ungkap sumber SWA seraya menambahkan bahwa hingga sekarang Anton memutuskan  komunikasi dengan  Fredi. "Ya, kami memang sudah tidak berkomunikasi lagi," Fredi membenarkan.


Putusnya komunikasi antara Fredi dan Anton pun membuat persaingan bisnis keduanya kian tajam. Fredi terus berupaya menambah jumlah cabangnya. Baginya, dengan membuka cabang sebanyak mungkin merupakan strategi untuk merebut pasar. Walau demikian, ia mengaku tidak memiliki target jumlah cabang yang harus dibuka setiap tahun. "Pokoknya, setiap tahun harus ada cabang baru. Tahun ini kami membuka 6 cabang," katanya.


Untuk pengembangan  cabang baru, Fredi mengaku tidak pernah bekerja sama dengan pihak lain. Bahkan meski banyak permintaan, ia tidak mau mengembangkan bisnisnya dengan cara waralaba. Semua cabang yang ada saat ini adalah miliknya sendiri, termasuk tanah dan gedung yang digunakannya. Ia juga melepaskan ketergantungan pada pihak perbankan. "Repot kalau harus melibatkan orang lain," tandasnya. Per September 2006, jumlah cabang NSC sudah mencapai 30 gerai yang tersebar di 21 kota.


Anton tak mau kalah. Baginya, membuka cabang bukan sekadar cara untuk memenangi persaingan, melainkan sebagai strategi pemasaran yang harus dijalani. "Pasien akan semakin mantap berobat ke tempat kami, kalau jumlah cabangnya banyak," tandas Anton.


Selain terus menambah jumlah cabang, strategi lain yang dijalankan Fredi adalah memberikan pelayanan yang standar di setiap cabang. Seluruhnya dibuat standar, mulai dari dokter, tempat, produk hingga pelayanan. "Kami jamin pasien yang berobat ke kantor pusat di Yogya, akan mendapatkan pelayanan yang sama di kantor cabang," tukas Fredi. Karena itu, untuk operasional NSC, Fredi mengaku mempersiapkan SDM secara khusus mulai dari dokter, beautician sampai petugas office boy sekalipun. "Kami mendidik SDM sendiri agar sesuai dengan standar yang telah kami tetapkan," katanya.  Sementara itu, untuk krim, NSC telah menggunakan produk sendiri dengan merek dr. Fredi Setyawan yang sudah memiliki hak paten, "Kami sudah memiliki pabrik sendiri untuk memproduksi krim," imbuh Fredi.


Satu lagi strategi untuk memenangi persaingan, yaitu penggunaan teknologi. Untuk menangani beberapa kasus kelainan kulit, NSC memang memanfaatkan teknologi laser. Dan pihaknya tidak segan-segan untuk selalu investasi bila ada produk laser baru yang canggih. "Semua itu demi kepuasan konsumen," kata bapak dua anak ini.


Berbeda dari NSC, LBC lebih memilih untuk menggunakan metode perawatan facial dan chemical peeling. Untuk krim kosmetik, LBC menggunakan produk yang diramu apoteker. Karena itulah, sebagian cabang LBC juga dilengkapi dengan fasilitas apotek. Namun sejak 2005, LBC sudah memiliki pabrik produksi kosmetik sendiri dengan merek LBC.


Selain metode tersebut, LBC juga menggunakan suatu alat bantu teknologi pengelupasan kulit Oxy Skin, yang hanya digunakan untuk pengelupasan kulit pada lapisan luarnya. Menurut Anton, sebenarnya ada alat yang efektif untuk menangani kasus seperti jerawat, yakni menggunakan teknologi laser. Namun, ia mengaku tidak mau menggunakannya dengan alasan memiliki efek samping yang merugikan pasien. "Dibandingkan dengan menggunakan Oxy Skin, laser memang lebih cepat memperlihatkan hasil, tapi dampaknya kurang baik untuk kesehatan," Anton menegaskan.


Menurut pengamat bisnis dari Centre for Business and Economic Studies  Yogya, Nur Feriyanto, persaingan antara LBC dan NSC memang menarik untuk diamati. Ia melihat masing-masing berusaha menjadi pemain nomor satu. Kendati demikian, menurutnya NSC boleh dibilang telah melaju jauh meninggalkan kompetitor yang lain. "NSC terlihat unggul bila dilihat dari penampilan gedungnya yang didesain sedemikian rupa untuk memberi keyamanan bagi pasiennya," ujar Nur yang juga pengelola Magister Manajemen Universitas Islam Indonesia.


Nur berpendapat, walau termasuk kategori perusahaan keluarga, NSC ditangani dengan manajemen yang modern. Hal ini terlihat dari penampilan setiap cabang yang diusahakan memiliki pelayanan standar, baik untuk gedung maupun peralatan yang digunakan. "Untuk  jasa kecantikan,  penampilan  semacam itu  cukup penting  dan menjadi pertimbangan tamu yang datang ke sana,"  tambahnya.



sumber : https://swa.co.id

dr. Fredi Setyawan pendiri Natasha

Sebelum 1999, nama Fredi Setyawan boleh dibilang nggak bunyi di belantika bisnis jasa perawatan kulit dan kecantikan di Tanah Air. Dokter kelahiran Ponorogo 17 Juli 1963 ini cuma dikenal segelintir orang di Klaten sebagai dokter Puskesmas dengan status pegawai negeri. Atau, paling banter ia dikenal sebagai dokter pribadi Bupati Klaten. Tak ada yang tahu, di sela-sela waktu luangnya, Pak Dokter biasa merawat kulit dan kecantikan istri tercintanya, drg. Tantri Onni Bianti.
Saking bersemangatnya merawat kulit dan wajah sang istri, Fredi merasa perlu mempelajari teknik perawatan wajah. Bahkan, ia tak segan terbang ke Singapura untuk belajar di London Research Centre. Ia pun rajin mengikuti berbagai seminar kecantikan tingkat internasional. Kenyang menimba ilmu perawatan kecantikan di berbagai tempat, ditambah pula dengan praktik langsung merawat kulit dan wajah istrinya, ia lantas memberanikan diri membuat krim untuk keperluan itu. ?Daripada membeli krim di pasar yang belum tentu cocok untuk kulit dan iklim kita, lebih baik bikin sendiri,? ungkapnya. Ternyata, krim buatannya itu amat cocok buat kulit dan wajah tropis istrinya.
Merasa puas dengan krim sang suami, tanpa diminta Tantri lantas menceritakan keampuhan krim itu kepada kawan-kawannya yang notabene istri-istri pejabat daerah Klaten. Dari situlah produk ini mendapatkan konsumen pertama. Jalannya memang sederhana: para istri pejabat itu meminta Fredi membuatkan krim perawatan kulit dan wajah seperti yang ia buat untuk istrinya. Usaha ini kemudian diperluas Fredi dengan memproduksi krim perawatan lebih banyak dan memasarkannya langsung lewat beberapa keluarga. Ia memberinya merek Natasha, diambil dari nama anak keduanya.
Melihat Natasha diterima pasar, Fredi kemudian banting setir menjadi pengusaha jasa perawatan kecantikan beneran pada 1999. Ia mendirikan klinik perawatan wajah di Jl. Ponorogo, di rumah kakaknya Eliana. Klinik itu juga diberi nama Natasha ?-lengkapnya Natasha Skin Care. Alasannya? ?Nama ini kok kedengarannya enak, maka saya pakai aja sebagai merek,? ia menerangkan. Untuk mewujudkan bisnisnya itu, Fredi berani menanggalkan statusnya sebagai pegawai negeri. Ia bahkan berhenti menjadi dokter pribadi Bupati Klaten, meskipun Pak Bupati mengizinkannya bekerja rangkap.
Langkah berani Fredi rupanya berbuah manis. Nama Natasha Skin Care, yang sejak awal membidik kalangan ibu rumah tangga kelas menengah-atas, cepat meroket. Namun, dalam perkembangannya, tak sedikit kalangan mahasiswi yang ikut menjadi pasiennya. Bahkan, kaum Adam pun tak segan menggunakan jasa Natasha untuk merawat kulit dan wajah mereka. Di tempat ini ada ruang khusus untuk pasien pria. Menurut Fredi, ada dua paket yang ditawarkan Natasha: standar dan gold. Paket standar lebih banyak diarahkan untuk kelas menengah. Mereka di-charge Rp 150?200 ribu. Sementara itu, paket gold membidik segmen yang lebih atas lagi dengan tarif mencapai Rp 400 ribu. Dengan uang sejumlah itu, selain mendapat perawatan wajah langsung, pasien juga mendapat krim untuk perawatan selama sebulan. Krim perawatan kecantikan tersebut terdiri dari skin toner, krim pagi, sun block dan krim malam. ?Sebelum dirawat, pasien diperiksa dan difoto. Untuk apa difoto? ?Foto itu penting buat dokumentasi. Nantinya setelah perawatan, foto itu akan dijadikan alat pembanding guna melihat hasil perawatan Natasha,? jawab Fredi.
Tentu saja buat masyarakat Yogya, Madiun dan kota-kota kecil lainnya, uang Rp 200?400 ribu untuk perawatan kulit dan kecantikan termasuk mahal. Toh, bagi mereka yang peduli terhadap kecantikan, tarif segitu tidaklah seberapa. ?Dibanding hasil yang diperoleh, uang sebesar itu tidak ada artinya,? kata Novia Kolopaking, artis yang sudah lama menjadi pelanggan Natasha. Artis dan pemain sinetron Keluarga Cemara ini mengaku memiliki problem berkaitan dengan kulit wajahnya yang berminyak. ?Karena berminyak, banyak jerawat muncul di wajahku. Daripada main obat sembarangan, saya percayakan saja pada ahlinya,? kata ibu tiga anak ini. Hasilnya? ?Setelah menjalami pengobatan selama lima bulan, sekarang sudah tidak ada lagi jerawat yang bercokol di pipi. Kulit wajah menjadi lebih kenyal,? jawab kelahiran 9 November 1972 itu.
Kehebatan Natasha ini diakui Budi Suprapto, pakar manajemen pemasaran dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Menurutnya, pusat perawatan kulit dan kecantikan ini telah menerapkan customize marketing, yakni setiap pelanggan (pasien) mendapatkan perlakuan dan pelayanan spesial. Setidak-tidaknya, ia menambahkan, pasien berhak mengetahui proses perawatan yang dijalankannya dan hasil yang bakal mereka dapatkan. ?Natasha tampaknya sudah mempraktikkan sistem transparansi. Pasien tidak ditempatkan sebagai barang mati yang hanya tahu hasilnya dan tanpa mengetahui prosesnya,? tutur Budi.
Tak mengherankan, pasiennya terus bertambah dan cabangnya tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. ?Sebagai perusahaan yang dibangun dari daerah, perkembangan Natasha termasuk bagus,? ia memuji. Menurut Budi, Natasha hadir pada saat yang tepat. Sebab, masyarakat sekarang makin peduli pada gaya dan penampilan. Tak hanya perempuan, kaum Adam pun memiliki perilaku yang sama, atau yang disebut metroseksual.
Dalam mengembangkan bisnis perawatan kecantikannya, Fredi berbagi tugas dengan sang istri. Fredi, dengan ilmu dan pengalamannya, mengurusi semua hal yang berkaitan dengan krim dan teknik perawatan, sedangkan Tantri menangani manajemen operasional Natasha Skin Care. Kombinasi keahlian dan kepiawaian suami-istri ini kemudian terbukti sangat efektif membawa Natasha menjadi tersohor, sekaligus memimpin pasar bisnis kecantikan di Yogya.
Sukses di Yogya tak membuat mereka puas. Natasha lalu membuka cabang pertama di Madiun. Natasha Skin Care Cabang Madiun ini bahkan lebih mentereng, lebih besar dan fasilitasnya lebih lengkap daripada induknya di Yogya. Di Madiun, tangan dingin Fredi-Tantri berhasil mengulang kesuksesan. Nama Natasha sebagai klinik perawatan kulit dan kecantikan semakin dikenal. Produk perawatannya semakin dicari orang. Keadaan yang menggembirakan ini membuka jalan lebih lebar lagi buat Fredi melebarkan sayapnya ke kota-kota lain. Begitulah, dalam usianya yang masih balita, Natasha Skin Care telah hadir di Ibu Kota, lalu Bandung, Surabaya, Solo dan Purwokerto. Tak berhenti sampai di situ. Natasha kemudian merambah Jember, Malang, Cirebon, Denpasar, Samarinda dan Balikpapan. Kota Semarang dimasuki Natasha Mei lalu.
Langkah Fredi membawa Natasha memasuki Kota Lumpia terbilang berani. Soalnya, di kota ini ia harus berhadapan langsung dengan dr. Mochammad Affandi, ahli dermatologi yang sudah tak asing lagi di industri kecantikan nasional. Nama dokter spesialis kulit itu sudah sedemikian tersohornya, sehingga banyak pengusaha jasa perawatan kecantikan yang harus berpikir dua kali untuk membuka pelayanan di Semarang. Toh, Fredi tak gentar. Baginya, membuka cabang di luar kota, bukan semata-mata karena ingin memperluas jaringan, tapi lebih karena melihat peluang. ?Kami tidak memasuki daerah yang kami tidak memiliki pelanggan di tempat itu,? katanya meyakinkan. Benar saja. Begitu cabang Semarang dibuka, pasien Natasha langsung antre.
Menurut Fredi, untuk membuka satu cabang klinik perawatan kulitnya dibutuhkan dana miliaran rupiah. Ia enggan menyebut angka pastinya. ?Memang besar investasi pembukaan cabang baru, karena Natasha selalu menggunakan tanah dan gedung sendiri. Ini penting buat keamanan bisnis ke depan,? jelas ayah dua anak itu datar. Selain itu, sejak 2002 Natasha menggunakan peralatan medis dan teknologi canggih, seperti laser dermatologi, yang harganya miliaran rupiah. Kini Natasha Skin Care antara lain mengoperasikan laser remodeling (untuk terapi kulit keriput dan bopeng) dan laser vaskular (untuk kelainan darah seperti teleangiektasi, hemagioma, port wein stain, spider agiona dan varises). Masih ada lagi, yakni laser pigmen (untuk menghilangkan flek, tahi lalat, tato dan sebagainya) dan laser pell buat kulit berminyak dan penuaan dini.
Kehadiran peralatan medis yang menggunakan teknologi mutakhir ini, Fredi mengungkapkan, tak bisa ditawar-tawar lagi. ?Alat-alat tersebut amat diperlukan, karena ada jenis kelainan kulit yang memang tidak bisa diatasi hanya dengan terapi facial atau menggunakan krim,? ia menerangkan. Untuk tanda lahir (toh/bulatan hitam di kulit), misalnya, hanya bisa diatasi dengan laser.
Menurut Fredi, semua investasi untuk membuka cabang dan peralatan canggih yang mahal-mahal itu didanainya sendiri. Ia tidak menggunakan jasa perbankan. ?Selama masih bisa ditanggung sendiri, kenapa harus pakai pinjaman bank?? jawab Fredi retoris ketika ditanyakan masalah itu.
Cara Natasha berekspansi dengan mengandalkan kantong sendiri itu, menurut Budi, menghambat perkembangan jaringan bisnisnya. ?Bagaimanapun, kemampuan finansial pemilik Nataha terbatas,? tuturnya. Ia berharap, Natasha bisa berkembang lebih cepat, misalnya dengan pola waralaba atau pinjaman bank. Tak ada salahnya memang menggunakan model pendanaan lain untuk memacu pertumbuhan. Yang penting, kualitas layanan yang menjadi kunci sukses Natasha tetap terjaga.

Produk PT. Walla Tritunggal izin BPOM

PT. Walla Tritunggal  adalah distributor kosmetik yang beralamatkan di Jl. Adi Sucipto, Kelurahan Pejarakan Karya, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram Telp: -, Fax: -. Produk unggulan PT. Walla Tritunggal adalah MANE N TAIL yang diproduksi oleh Straight Arrow Products, Inc. yang beralamatkan di 2020 Highland Ave., Bethlehem, PA 18020, USA.


No
Nomor Notifikasi
Nama Produk
Tanggal habis masa berlaku
Nama Perusahaan
Alamat
Telp
1
NE51131002448
MANE N TAIL And Body Shampoo
18-September-2016
Walla Tritunggal, PT
Puri Kencana Niaga Utama II Blok M4 No .1C,Kel Kembangan Selatan, Kec Kembangan Jakarta Barat Indonesia
021 58356117
2
NE51151001518
MANE N TAIL Anti - Dandruff 2 In 1 Shampoo & Conditioner
31-July-2018
Walla Tritunggal, PT
Puri Kencana Niaga Utama II Blok M4 No .1C,Kel Kembangan Selatan, Kec Kembangan Jakarta Barat Indonesia
021 58356117
3
NE51131002505
MANE N TAIL Color Protect Conditioner
23-September-2016
Walla Tritunggal, PT
Puri Kencana Niaga Utama II Blok M4 No .1C,Kel Kembangan Selatan, Kec Kembangan Jakarta Barat Indonesia
021 58356117
4
NE51131002504
MANE N TAIL Color Protect Shampoo
23-September-2016
Walla Tritunggal, PT
Puri Kencana Niaga Utama II Blok M4 No .1C,Kel Kembangan Selatan, Kec Kembangan Jakarta Barat Indonesia
021 58356117
5
NE51131002451
MANE N TAIL Deep Moisturizing Conditioner
18-September-2016
Walla Tritunggal, PT
Puri Kencana Niaga Utama II Blok M4 No .1C,Kel Kembangan Selatan, Kec Kembangan Jakarta Barat Indonesia
021 58356117
6
NE51131002450
MANE N TAIL Deep Moisturizing Shampoo
18-September-2016
Walla Tritunggal, PT
Puri Kencana Niaga Utama II Blok M4 No .1C,Kel Kembangan Selatan, Kec Kembangan Jakarta Barat Indonesia
021 58356117
7
NE51151001089
MANE N TAIL Detangler
19-May-2018
Walla Tritunggal, PT
Puri Kencana Niaga Utama II Blok M4 No .1C,Kel Kembangan Selatan, Kec Kembangan Jakarta Barat Indonesia
021 58356117
8
NE51131002502
MANE N TAIL Gentle Clarifying Shampoo
23-September-2016
Walla Tritunggal, PT
Puri Kencana Niaga Utama II Blok M4 No .1C,Kel Kembangan Selatan, Kec Kembangan Jakarta Barat Indonesia
021 58356117
9
NE51131002501
MANE N TAIL Gentle Replenishing Conditioner
23-September-2016
Walla Tritunggal, PT
Puri Kencana Niaga Utama II Blok M4 No .1C,Kel Kembangan Selatan, Kec Kembangan Jakarta Barat Indonesia
021 58356117
10
NE51131002507
MANE N TAIL Herbal Gro Conditioner
23-September-2016
Walla Tritunggal, PT
Puri Kencana Niaga Utama II Blok M4 No .1C,Kel Kembangan Selatan, Kec Kembangan Jakarta Barat Indonesia
021 58356117

Lain :

Grosir Produk Kecantikan

Ditulis Oleh Unknown on Minggu, 26 Oktober 2014 | 13.03

Alamat dan lokasi penjualan produk kecantikan yang menjual grosir dengan harga diskon dan promo untuk penjualan produk kecantikan. Menjual produk kecantikan secara online dengan harga grosir. Informasi penjualan produk kecantikan baik produk lokal maupun produk import secara grosir, dapatkan keuntungan lebih dengan menjual produk kecantikan dengan harga grosir.